Kamis, 14 November 2013

dari suatu cerita ke cerita ....

angin berhembus perlahan. dinginnya terasa ringan. motorku berjalan dengan satu irama yang mantap, terjaga, dan bersahaja. satu kisah selesai sudah .....

aku ingat aku tidak suka mengucapkan selamat tinggal. aku lebih suka ditinggal. dalam pengertian, atau tidak mengerti sama sekali.

kutatap lembut gerak tanganmu, warnanya, kulihat benda yang menari bersamanya. jujur aku hanya bisa menatap tanganmu. tidak lainnya. maaf ....

kunikmati mie kuah itu sedalamnya. dan sungguh aku menikmatinya. tanpa ditambah2i atau dikurang2i. aku ingin menikmati saat2 terakhir ini

dan bayangmu memudar sudah, walau masih bisa kukenali. waktu berjalan, tidak berjalan. menikmatinya membuatku memilih menikmati minum teh tawar saja. karena jujur aku merasa semuanya tawar ......

aku pulang, badanku terasa setengah. sungguh sensasi ini luar biasa. aku bahkan masih sedikit linglung saat menulis ini

tapi ngomong2 terima kasih .....

cahaya di balas cahaya, asap hitam dibalas asap hitam. apa bedanya. mari kurubah semua itu. kasih adalah jawabnya. senyum adalah kendaraannya ...... tidak usah merasa lebih atau kurang .... karena lebih atau kurang itu hanya konsep, atau sebut saja rasa ....

berjalan lagi, menikmati hari, bulan pasti bercahaya, matahari pasti bersinar. angin berlalu, mendung hilang, hujan pun berhenti. 

kalau sudah begini, aku mao berteduh di guruku, mendengarkan kisahnya dalam hening .....

Selasa, 12 November 2013

ini bukanlah derita ....

hujan masih turun di luar. suara tetangga di sebelah akhirnya terdengar. dan aku .... senang ada di kamar ini, mengetik kicauan hati, menikmati udara dingin, mendengar rintik rintik suara air yang jatuh

kalau bisa menulis sepertinya asik juga. menuliskan apa yang dirasa, apa yang diraba. kehidupan itu sunyi, sesunyi suara hujan. yang menimbulkan rasa dan dahaga jiwa.

setiap waktu memiliki kuasanya sendiri. kita yang berada di dalamnya, terperangkap tidak terperangkap. berbahagialah orang yang sungguh bebas

salah satu keuntungan dari seluruh zona tidak aman ini adalah, ketika semua indra tumbuh dan berkembang. hidup tidak sederhana, tidak tidak sederhana. tapi yang jelas, hidup menjadi lebih hidup justru dalam keadaan seperti ini.

kecupan jingga rasa ada di hati ini, mengalun manja tapi mencekik pasti. aliran hidup mengalir deras tak tertahankan. kita di sini, seperti boneka kalau sungguh tidak ditamengi oleh kesadaran.

langit kau mengetahui semua yang terjadi. setiap detik di hari ini akan terpatri dalam lembar2 kehidupan abadi. pada akhirnya aku melihat bahwa semua bercahaya. tidak ada yang tidak bercahaya.

dan terima kasih. ketika bahkan terjatuh dan merangkak. karena mungkin sebenarnya tidak. hanya pikiran saja yang mencerna bahwa semua ini dukka ..... hidup dukka ...


Senin, 04 November 2013

aku di langit sore ini .....

sebenernya sederhana, aku di sini, sendiri, sepi, bertanya, sesekali menunggu.
angin yang bertiup adalah udara ac ini, kamar yang berantakan, plastik dan koran melangkah bebas dan sombong
hari ini hari senin, besok selasa, dan libur pulak,seseorang di sana menunggu cerita yang harusnya terbit malam ini ..... semoga ia tidak lelah

Aku bertemu seseorang sore ini, kejadiannya begini, atau tepatnya aku tanpa sengaja membawa, mengajak, seseorang untuk menemukan dirinya sore ini. Bukan sesuatu yang luar biasa kok, walau kadang aku kaget juga.

Kehidupan membawa kita pada tempat dimana kadang kita tidak bisa memilih. Tapi yang jangan sampai dilupa adalah kita harus selalu punya pilihan.

Ketika kita menyadari bahwa kita punya pilihan, hidup akan terasa jauh lebih bebas. Kita berhak memilih loh. Dan apakah pilihan kita akan salah atau tidak, kita bisa kembali memilih.

Orang-orang bersuara berisik di kamar sebelah. Seakan mereka bangga mengumumkan bahwa aku, dan hanya aku sendiri di kamar busuk ini yang tak punya teman. Dan mengejek, bergabunglah bersama kami kalau kau tidak tahu malu.

Notifikasi facebook berbunyi, seorang orangtua mengucapkan terima kasih. Aku ingin berkata : bu suatu kehormatan untuk saya pernah mengenal ibu dan anak ibu. Saya tidak menyesal pernah ada di tempat itu.

Malam ini aku hanya ditemani air putih, program puasa dijalankan sudah. Untuk penampilan lebih baik? atau aku yang menyerah dan berkompromi?

Langit malam, beda dengan langit siang. Di malam ini langit tidak bercahaya. Berteman petir yang malu-malu unjuk gigi, menakuti kita manusia dengan ancaman hujannya. Aku yang tak peduli di kamar ini. Mereka yang bahkan bersuara lebih keras sekarang. 

Sabtu, 20 Juli 2013

hujan di kuil .....

hujan sore ini, keheningan berkuasa
walau tampak sedetik, tapi serasa tak berwaktu, apalagi beruang

dan setiap tetesan, ketika menyentuh bumi, begitu berani ..... walau tak tahu akan seperti apa jadinya nanti, tapi berani ....

walau sesaat, keheningan ini mengandung begitu banyak arti

aku di sini memandang pada tetesan air yang tersisa, mencoba menahan turun ke bumi

walau terlihat seperti anugrah, hidup yang monoton ini sebenarnya kutukan

dalam hujan, dalam tetesan air, kita seperti melihat dalam penjara kita
dan setiap tetesan seperti surga, karena ia begitu bebas, karena ia begitu berani
tak peduli seperti apa, tak peduli akan kemana
ku rindu, ku ingin



Senin, 18 Februari 2013

bulan yang melahirkan kita



Aku ingat, walau tanpa awan, pertemuan pertamaku denganmu. Angin berhembus, tidak berhembus. Waktu berjalan tanpa jejak.

Walau kaku, ku mencoba tulus memandangmu. diterangi temaram lilin. 
"ada apa?" kau bertanya seperti menegaskan.
"nggak papa. kamu cantik." jujur memang lebih baik.
dan sedetik kemudian kau tersenyum. Ringan dan jenaka.

Aku menatap lembut, mengatakan dengan berani. Sepertinya sedikit terlalu, tapi kulihat kau menikmatinya, jadi kuteruskan.

Aku sadar loh, saat berkata seseorang bisa terlihat menarik, ato tidak menarik. Saat memandang juga, saat menggerakkan tubuh juga. 

Saat senyummu terbit, terbit, dan terbit lagi. Aku gembira. Setidaknya aku menyadari ada sesuatu yang baik, untukku, untukmu.

"ehmmm, kamu photograper ya?" tanyamu sopan.
"ehmmm, mungkin" aku tidak melihatnya, tapi memutar cepat kameraku, lalu mengambil beberapa pose. 
dan kau tersenyum, dan dalam senyum itu aku menyadari .................

***** 

Malam tidak selamanya malam. Setidaknya saat ini. Entah karena apa. Yang kutahu aku, kamu, di sini, berbicara, tertawa, dan dengan sadar menyambut pagi yang datang.

Beberapa kali mata kita bertemu, kukagumi wajah itu. 
"what?" tanyamu
"no, just ...... "
"what?" ditambah senyum dikalikan selidik tanya
"ehmmm, di malam yang semakin kurasa indah ini, di sini, ijinkan aku mengatakan sesuatu. Aku berangan-angan akan kembali berbincang denganmu. Aku berangan-angan melihat kamu, menyadari kau kulihat, bertanya ada apa. Dan aku tak tahu jawabannya."

dan hening.

"aku senang berbicara sama kamu malam ini." aku melihatmu utuh sekarang.

Mata kita bertemu, hati kita (mulai) menyatu. Bersama waktu, pagi menghangati kita. Tanganku memegangmu, tanganmu menyambutku.

Selanjutnya, aku percaya alam lebih berkuasa. Mengukir hari-hari kita dengan kehendaknya, mengisi warna demi warna yang kadang setuju kita sukai, tapi kadang aneh mengalir.

Cerita mengalir, semoga tidak egoku yang menulis, semoga juga bukan egomu. Biarlah angin berhembus, malam datang, pagi menyambut. Setitik kisah kita akan mengalir. 

Indah? Aku tak tahu. Tak peduli tepatnya ........................




Sabtu, 02 Februari 2013

Malam dan warna itu

Turun malam ini datang bersama lembut rembulan. Angin sejuk berhembus perlahan. Sejuta hidup turun dan menyatu. Membentuk kisah kisah sederhana nan indah.
Kutatap wajahmu, yang bersinar bahkan di malam. Di titik yang selalu menumbuhkan damai di hati ini, di titik yang selalu menyuburkan rasa percaya.
Dan di dalam lembut, kugenggam tangan itu, pelan. Dan sambutmu, menyiratkan sebuah rasa yang langsung kumengerti. Sepertinya sengaja segala indah ini, sepertinya terurai tabur cahaya tanpa diminta.
Di dalam itu, aku tersenyum. Bersyukur tepatnya.