hari berjalan, diminta atau tidak diminta. segala hidup mengalir sesuai setiap tindak kita. dan saat kita menuju cahaya, tentu pertama, kedua, ketiga, kabut tentu menghalangi. kalau diselami memang tidak mudah mencapai pencerahan; bukan karena syaratnya, tapi memang kita yang harus memurnikan dan memurnikan lagi jiwa kita.
entitas kita adalah jiwa, kita bukanlah badan. kalau kita menyadari sungguh, kebahagiaan sudah dekat. dan bagaimana mengenal kita adalah jiwa? tidak ada lain jalan, meditasilah caranya.
kenapa menjadi perlu mengetahui bahwa kita jiwa? inilah rahasianya. berbahagialah orang yang mengetahui rahasia itu. berbahagialah ....
******
dan dalam diri, ada kecenderungan kita tersesat dalam ketidakbahagiaan. karena tingkah kita, karena polah kita. berbahagialah seseorang yang menyadari ini, dan membuat hidup lebih sadar. berbahagialah ...
waktu berjalan seperti burung terbang, ia lurus ke depan. jikalau melihat cahaya, hampirilah, atau tinggal di dalamnya. kehangatan sinar itu akan menyadarkan kita. keputihan warnanya akan membersihkan kita, seutuhnya, seluruhnya.
ingatlah selalu, jika tidak saat ini, nanti, setidaknya saat kita meninggalkan dunia ini sesungguhnya, kita harus mempertanggungjawabkan apa pun yang telah kita lakukan di dunia. dan ketika kita tidak menerima ganjarannya di dunia, maka kita akan lahir dalam situasi dimana kita akan mengalami penderitaan, sangat menderita, mungkin sebagai binatang, yang akan dipotong. atau sebagai pohon yang harus menetap selama puluhan, bahkan ratusan tahun ditempat yang sama, diterpa hujan, abu, angin, panas.
bukan menakuti, tapi menyadarkan. siapa mengerti ia paham. siapa sadar ia bercahaya ..........
Tidak ada komentar:
Posting Komentar