Kamis, 01 November 2012

Sehari

Matanya menatap panjang. Pembeli belum juga datang. Waktu terus berjalan. Bagaimana ini?
Hujan gerimis turun, rasanya seperti mengutuk. Apa dayaku?
Tanpa sadar aku melihat ke langit. sejuk sebenarnya, aku pun menikmati .
Kalau sudah begini, aku cuma bergumam dalam hati; Tuhan itu ada, dia tidak buta.
Sambil menunggu hujan, ku tak mau diam. Kubaca mantra penyejuk hati; hanya padaMu aku berlindung.
Dan kulihat bayang indah itu; bayangan pembeli …..

Rabu, 31 Oktober 2012

Tak ada sungguh tak ada

Sang pendekar berjalan, iramanya agak gundah. Pedang di kiri, dan malam ini terlihat jingga.
Angin berhembus; dari pelan lalu menusuk. Dan mengalirlah suara derak senjata beradu. Getarnya bisa merusak telingamu.
Seluruh tenaga hidup memusat. Satu dua detik berlalu menjadi menit.
Suara itu semakin menusuk, membelah tidak memberi ruang. Dan kesempatan terbuka. Tapi apakah ini saatnya?
Satu detik membatu menjadi seper 3600 detik. Ya, itu cukup.
Aku melewatinya. Ia terbakar, Ia jatuh pelan, diam dan tak bersuara lagi.

Rabu, 22 Februari 2012

kita dan kita .....

Diriku, seperti dalam setiap hari yang kita jalani, apakah kepuasan dan kepuasan sungguh terasa?

Diriku, usia kita sudah tua, tua sekali, mungkin seumur jaman ini. Melingkar-lingkar, tersesat dalam lingkaran samsara kehidupan. Mereguk pengalaman demi pengalaman yang anehnya tidak membuat kita tercerahkan.
 
Diriku, cahaya itu ada di sana, suara itu juga ada. Maukah bersama merengkuh dan mengerti tambah memahami semuanya? Diriku kedamaian walau sebentar adalah berharga, mari kita menghayatinya.

Diriku, pancaran makna kehidupan bersinar dan bersinar. Tangkap, dekap, dan jangan lepaskan. Agar terpahami secara utuh, agar dapat bercahaya dan bermakna.

Kamis, 09 Februari 2012

kita dan penjara hati

hari berjalan, diminta atau tidak diminta. segala hidup mengalir sesuai setiap tindak kita. dan saat kita menuju cahaya, tentu pertama, kedua, ketiga, kabut tentu menghalangi. kalau diselami memang tidak mudah mencapai pencerahan; bukan karena syaratnya, tapi memang kita yang harus memurnikan dan memurnikan lagi jiwa kita.

entitas kita adalah jiwa, kita bukanlah badan. kalau kita menyadari sungguh, kebahagiaan sudah dekat. dan bagaimana mengenal kita adalah jiwa? tidak ada lain jalan, meditasilah caranya.

kenapa menjadi perlu mengetahui bahwa kita jiwa? inilah rahasianya. berbahagialah orang yang mengetahui rahasia itu. berbahagialah ....

******

dan dalam diri, ada kecenderungan kita tersesat dalam ketidakbahagiaan. karena tingkah kita, karena polah kita. berbahagialah seseorang yang menyadari ini, dan membuat hidup lebih sadar. berbahagialah ...

waktu berjalan seperti burung terbang, ia lurus ke depan. jikalau melihat cahaya, hampirilah, atau tinggal di dalamnya. kehangatan sinar itu akan menyadarkan kita. keputihan warnanya akan membersihkan kita, seutuhnya, seluruhnya.

ingatlah selalu, jika tidak saat ini, nanti, setidaknya saat kita meninggalkan dunia ini sesungguhnya, kita harus mempertanggungjawabkan apa pun yang telah kita lakukan di dunia. dan ketika kita tidak menerima ganjarannya di dunia, maka kita akan lahir dalam situasi dimana kita akan mengalami penderitaan, sangat menderita, mungkin sebagai binatang, yang akan dipotong. atau sebagai pohon yang harus menetap selama puluhan, bahkan ratusan tahun ditempat yang sama, diterpa hujan, abu, angin, panas.

bukan menakuti, tapi menyadarkan. siapa mengerti ia paham. siapa sadar ia bercahaya ..........

Minggu, 15 Januari 2012

liat dan percaya ...

bumi masih akan berputar, langkah harus dilakukan ....

Rabu, 11 Januari 2012

dan ..... ternyata

ternyata seperti ini .... angin berhembus, waktu berjalan, dan cerita bergulir

kesenyapan selalu ada, dan aku tahu selalu akan ada

setiap gerak, memicu tanggap benar dari setiap kita

mengamati dan mengamati lebih dalam, sadar dan lebih menyadari lagi ....
setiap langkah, kenyataan, tanggapan, adalah keputusan ... dan baik sekali jika itu lahir dari bening hati

dan jawabnya selalu sama ... tetapkan hatimu, tetapkan dirimu .... dalam meditasi ... dan selamilah sendiri

Selasa, 10 Januari 2012

ya ... inilah

hari datang ... seribu langkah mengiringi
seru kehidupan menemani .... asa dan anugrah adalah pengiringnya


ah, minuman ini terasa hangat di tenggorokan, dan aku memandang ke depan
kau mengambil gitar, memetik pelan, dan mulai bernyanyi

suara itu mengalir pelan, dan perlahan penuh arti

hidup memberi makna, indahnya terasa .....
dan karena itu darimu ... warnanya menjadi lebih di hatiku ...

dan dari sudut-sudut itu ... kau memandangku
tadinya aku ragu ... tapi akhirnya aku tahu
walau aku tak tahu apa yang harus kulakukan ... tapi aku tahu aku pasti tersenyum

waktu terasa ........


Selasa, 03 Januari 2012

senja sore ini

dari manakah bening hati?

itu berasal dari hati dan pikiran yang tenang. hati dan pikiran yang tenang adalah hasil dari olah batin dan meditasi pengamatan yang dilakukan.

kesadaran akan meditasi lahir dari pengertian dan pengetahuan yang benar. pengertian dan pengetahuan yang benar lahir dari kesempatan untuk menerima pengertian dan pengetahuan yang benar itu.

apakah benar yang menentukan nasib kita adalah kita sendiri?

benar. dalam pengertian bahwa kita adalah penyebab penderitaan dan kebahagiaan kita. dalam pengertian bahwa hidup tidaklah sesederhana apa yang kita tahu. itu jauh jauh jauh lebih dalam dari pengertian kita. 
nasib tidak bisa diubah, tapi sikap dan cara menjalani hidup kita bisa didewasakan. dengan kesadaran, dengan meditasi, dengan pengertian yang baik. kemudahan akan datang, pengertian akan tumbuh. bersama itu hidup bukanlah sebuah siksaan.

jika kesadaran telah tumbuh, kita akan menjalani hidup kita dengan kesungguhan hati, pikiran, dan perasaan. dan bersama itu hidup akan terasa sangat membahagiakan, karena kita menjalani hidup kita, kita menikmatinya.

Senin, 02 Januari 2012

buddha di dalam bis

waktu bergulir, di dalamnya ikatan karma mengalir deras dan tajam
pada setiap jengkal peristiwa, terlukis bagaimana kesadaran berada
di dalamnyalah, kehidupan kita, mengalir pelan tak berdaya 

ia memandang pada setiap jalan, terpisah dari setiap peristiwa
dalam pandang bening, tulus, penuh arti
tidak tersentuh, tidak berada dalam duka, gelisah, sengsara
berjalan bersama waktu, menembus setiap peristiwa sederhana; dimana keheningan berkuasa dan yang hanya ada

oh setiap orang menderita karena tidak sadar; tidak sadar akan apa yang diucapkan, tidak sadar akan apa yang dilakukan, tidak sadar akan apa yang dipikirkan, tidak bisa melihat hidup secara nyata dan apa adanya ... tidak bisa menyadari bahwa semua terjadi atas kehendak alam, melihat dan membiarkan diri hidup dalam kehendak bijak Sang Kuasa ... karena hanya Ia yang tahu, karena hanya keiklasan dan ketulusan yang membuat hidup berjalan dengan semestinya 

tidak ada pencapaian, tidak ada rasa ingin lebih, menjalani dan lebur pada setiap waktu
menjalani dengan pandangan sadar, memandang dari kedalaman jiwa pada setiap aksi dan merespon dengan kesadaran pula. 

dan ia tersenyum, dalam senyumnya terbit matahari; menyegarkan, mencipta damai
dan ia tertawa, lepas .... tanpa beban